Kamis, 23 Oktober 2008

Dua Orang Tukang Bangunan

Dua Orang Tukang Bangunan

Tersebutlah dua orang tukang yang mendapat tugas dari sang juragan untuk masing-masing membangun sebuah rumah. Juragan itu hendak pergi lama ke negeri seberang untuk menunaikan panggilan suci agamanya. Ia berharap sepulang dri ziarah panjang itu kedua rumah tersebut sudah selesai dan siap digunakan untuk tujuan yang mulia.

Tukang bangunan pertama membangun sebuah rumah sederhana, berukuran kecil saja, dan berkualitas ala kadarnya. Meskipun ia sebenarnya seorang tukang yang ahli dan sudah mengabdi pada Sang Juragan sekitar 30 tahun, namun pada tahun-tahun belakangan ini ia semakin tidak puas saja dengan banyak hal sehingga ia ogah-ogahan berkerja, sering merasa jenuh, suka bersungut-sungut, dan sudah lama berniat pensiun saja.

Tukang bangunan kedua membangun sebuah rumah megah, berukuran besar, berkualitas tinggi dengan sentuhan seni yang bercitarasa. Seperti rekannya, ia pun seorang tukang yang ahli dan sudah mengabdi 30 tahun juga. Meskipun sejumlah hal tak bisa memuaskan hatinya, namun ia memilih untuk bersyukur atas semua hal yang sudah diterima serta dialaminya dari dan dalam pekerjaannya. Ia sadar bahwa jatidirinya sebagai tukang terwujud baik di bawah pengayoman sang juragan. Martabatnya sebagai tukang selalu mencegahnya bekerja asal-asalan, dan karena tahu bahwa inilah mungkin karya terakhirnya maka ia pun berketetapan hati untuk membangun rumah terbaik yang pernah dibuatnya sepanjang karirnya. Seperti gajah yang mati meninggalkan gading, ia pun ingin pensiun dengan meninggalkan karya terbaik.

Dua tahun lewat, juragan itu pun pulang. Ia memanggil kedua tukangnya, menerima kunci rumahnya dan mewawancarai mereka tentang proses pembangunan rumah tersebut. Di akhir pertemuan, juragan berdiri, seraya mengucapkan terimakasih atas pengabdian dan karya mereka selama ini ia pun menyalami kedua tukang tersebut dan berkata, ”Terimalah kunci rumah ini kembali sebab hanya inilah pesangon yang dapat kuberikan. Semoga kalian berbahagia tinggal di sana”.

Moral cerita ini adalah: ”Sesungguhnya tak seorang pun bekerja bagi sang juragan. Setiap orang sebenarnya hanya bekerja untuk dirinya sendiri. Maka, marilah bekerja dengan etos yang terbaik sebab pada akhirnya kita jua yang menerima hasilnya”.

Tidak ada komentar: