Kamis, 23 Oktober 2008

Empat Jari Anugerah Hee Ah Lee

Terlahir cacat itu bagiku merupakan anugerah special dari Tuhan. Aku sampaikan pesan bahwa kalian bisa melakukan apa pun. ”kata Hee Ah Lee (21), pianis asal Korea yang terlahir hanya dengan empat jari tangan.

Ode to Joy karya Beethoven itu mengalun dari piano Hee Ah Lee di Lagoon tower, Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (28/3) pagi.Itu hanya bagian repertoar sehari-hari Hee, selain juga nomor populer Ballade Pour Adeline, Hungarian Dance dari Brahms, sampai karya Chopin Fantasie Impromptu.

Hee memainkan karya itu dengan empat jari. Ia menderita lobster claw sydrome. Pada masing-masing ujung tangan Hee terdapat dua jari yang membentuk huruf V seperti capit kepiting. Kakinya hanya sebatas bawah lutut hingga tak dapat menginjak pedal piano standar. Untuk bermain piano, pedal sengaja ditinggikan agar bisa diinjak oleh kakinya yang pendek juga. Ia juga mengalami keterbelakangan mental.

Kondisi semacam itu mungkin akan dibahasakan orang sebagai kekurangan. Akan tetapi Hee menyebutnya sebagai, ”special gift, anugerah spesial dari Tuhan”.

Ia bisa memainkan Piano Concerto No.21 dari Mozart bersama orkes simfoni. Ia mendapat sederet penghargaan atas keterampilan bermain piano. Ia berkeliling dunia, termasuk bersama pianis Richard Clayderman di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat.

“Aku berkeliling dunia. Aku bermain piano dari sekolah ke sekolah untuk memberi motivasi kepada kaum muda bahwa mereka bisa melakukan apa pun kalau berusaha,” kata Hee.

Kasih Ibu

Hee akan tampil dalam konser Sharing The Strength of Love di Balai Kartini, Jakarta pada Sabtu (31/3) malam yang digelar promotor Empang Besar Makmur (EBM) bekerja sama dengan Radio Delta FM 99.1 Jakarta dan koran Korea, Hannh Press. Hee hadir untuk memberi inspirasi kepada orang tentang kekuatan kasih yang mengubah “kekurangan” menjadi kekuatan.

Hee lahir dari Woo Kap Sun (50). Woo telah mengetahui sejak awal bahwa anaknya akan terlahir cacat. Ayah Hee adalah bekas tentara Korea.

”Ada sanak keluarga kami menganggap itu sebagai aib. Mereka bahkan menyarankan agar jika kelak lahir, bayi itu dikirim ke panti asuhan,” kata Woo dalam bahasa Korea lewat penerjemah.

Woo menolak saran tersebut. Ia menerima Hee sebagai kenyataan dan anugerah. Ia pun menamai anaknya dengan nama indah. Hee dalam bahasa Korea berarti sukacita. Dan Ah adalah tunas pohon yang terus tumbuh, sedangkan Lee nama marga. Hee Ah Lee ádalah sukacita yang terus tumbuh bagai pohon.

“Ketika lahir saya melihat, ah betapa cantiknya dia. Ini anugerah Tuhan,” kata Woo dengan muka berbinar.

”Saya bacakan cerita-cerita sebelum tidur. Saya nyanyikan lagu-lagu untuk dia dalam buaian,” lanjut ibu yang tangguh itu.

Woo merawat, mendidik, dan memperkenalkan Hee pada kehidupan nyata. Ia memperlakukan Hee sebagaimana anak-anak lain. Untuk melatih kekuatan otot tangan, Hee diajarinya bermain piano sejak usia 6 tahun. Saat itu, jarinya belum mampu mengangkat pensil.

Hee mengenang guru piano pertamanya yaitu Cho Mi Kyong, sebagai guru yang keras. Sang guru memperlakukan Hee sebagai murid dengan sepuluh jari. Ia tidak melatih Hee dengan pertimbangan ras kasihan karena kondisi fisik.

”Guru saya bilang, jangan bersikap sebagai orang cacat. Tapi bermainlah sebagai orang normal,” kenang Hee yang selalu ramah dalam bertutur.

”Aku berlatih terus hingga lelah dan menangis. Betapa sulit bermain dengan empat jari. Susah sekali bagiku memainkan notasi yang bersambungan,” kata Hee lagi.

Ketika Hee memainkan arpeggio atau memainkan chord secara melodik dan runut, memang terdengar ada not yang terlompati. Tapi, itu tidak merusak melodi ataupun mengubah bangun komposisi. Ia mengaku 70 persen bermain dengan hati dan sisanya dengan teknik yang ia kondisikan untuk empat jari.

Pernah menyerah? Patah semangat?

”Bayangkan, Anda makan satu jenis makanan terus-menerus. Aku pernah bosan. Tapi aku memannya terus. Aku berlatih terus-menerus,” kata Hee tentang ketekunan.

Percaya Diri

Begitulah, diam-diam sang ibu menanamkan rasa percaya diri. Ia menggembleng Hee agar tumbuh mandiri, penuh percaya diri, dan bersemangat baja menghadapi hidup. Bayangkan untuk bisa memainkan karya Chopin Fantasie Impromptu, Hee berlatih lima sampai sepuluh jam selama lima tahun. Hasilnya memang luar biasa. Umur 12 tahun, Hee telah menggelar resital piano tunggal.

“Ibu menanamkan ras percaya diri padaku. Bahwa aku harus bisa melakukan segalanya sendiri. Bahwa kalau aku bisa main piano, aku bisa melakukan apa saja. Meski aku tahu itu makan waktu banyak,” ungkap Hee.

Piano menjadi sahabat dan jendela bagi Hee untuk melangkah di pentas kehidupan. Ia lalui masa kecil dengan biasa seperti kebanyakan anak-anak. Ketika ada cercaan orang, Hee menghadapinya secara dewasa.

“Teman-teman ada yang mengatai aku sebagai hantu atau monster. Tetapi, aku menerima itu,” kata Hee, tetap dengan senyum.

”Aku tidak pernah membandingkan diri dengan orang lain atau merasa beda dengan yang lain. Aku hanya ingin melakukan sesuatu seperti orang lain,” kata Hee pula.

Hee Ah Lee menjadi inspirasi bagi mereka yang merasa diri sempurna untuk berbuat sesuatu bagi kehidupan.

Bekerja Lebih dari yang Diminta Perusahaan

Bekerja Lebih dari yang diminta Perusahaan

Melihat pernyataan ini, pasti akan timbul keraguan atau tanda tanya. Rasanya, untuk mengerjakan tugas sehari-hari yang ada dalam job descriptionnya saja sudah sulit, apalagi dengan mengerjakan tugas lain yang ada. Apakah tidak menjadi beban tambahan atau malah menyusahkan?

Pada suatu saat, tahun 1979 ada seorang pemuda dari Yogyakarta bernama Hariyono, datang ke Jakarta. Ia seorang lulusan STM jurusan mesin, yang kemudian bekerja di sebuah perusahaan reparasi mesin diesel, sebagai penjaga gudang yang bertugas menjaga gudang dan seluruh peralatannya dengan gaji Rp 1.500/minggu. Sebagai perbandingan, biaya untuk hidup pada saat itu kurang lebih adalah Rp 4.000/minggu. Tidur di bedeng dan kalau bepergian dengan cara nomplok truk, supaya tidak perlu membayar.

Dalam pekerjaannya sebagai penjaga gudang, ia melihat sparepart mesin banyak tergeletak di mana-mana, tidak tertata rapi. Lalu ia berpikir, bagaimana kalu dibuat kotak-kotak dari kayu untuk menyimpan perkakas atau sparepart yang berserakan tadi. Dari mana kayunya, ia tidak minta dibelikan kayu oleh pimpinan, tetapi cari kayu bekas. Paku, juga mencari paku-paku bekas. Martilnya, pinjam dari sana-sini, atau kalau tidak ada ia memakai batu sebagai martil alami. Gergaji pun juga demikian, pinjam dari sana-sini. Akhirnya selama beberapa bulan, selesailah puluhan kotak untuk penyimpanan dan perkakas yang tercecer menjadi rapi tersusun menurut jenisnya.

Suatu saat, pimpinan melihat, dan bertanya,” Siapa yang membuat kotak-kotak sparepart ini?” Hariyono menjawab,”Saya, Pak!” Pimpinan tersebut berkata lagi,”Wah bagus kerjamu. Sekolahmu apa sih?” Jawab Hariyono,”STM mesin Pak!” Pimpinan berkata lagi,”Baiklah kalau begitu, mulai besok kamu naik menjadi pembantu mekanik.”Sebagai pembantu mekanik, ia bertugas membersihkan minyak dan kotoran dari sparepart. Tugas membersihkan kotoran dari sparepart ia lakukan dengan cepat sehingga masih ada waktu luang dalam kerjanya.

Waktu luang itu diisinya dengan memperhatikan electrician pada bagian pompa air. Suatu saat, mekanik pompa air itu menegurnya,” Lu daripada liatin aja, mendingan bantuin gue,” Hariyono tampak girang dan berkata,”Wah, memang itu yang saya tunggu, Pak!” Akhirnya, ia bekerja juga sebagai pembantu bagian listrik dan generator. Karena semangat ingin tahunya tinggi, kerja keras dan modal pendidikannya cukup maka dalam waktu singkat, Hariyono mampu memperbaiki keseluruhan peralatan listrik di generator maupun panel kontrolnya.

Beberapa saat kemudian, secara kebetulan mekanik pompa air tersebut keluar dan Hariyono diminta menggantikan menjadi electrician. Dalam waktu luangnya bekerja sebagai electrician, ia memperhatikan juga bagian mesin diesel yang lain. Sekali lagi, karena kemauan keras dan kemampuannya cukup maka ia mampu menguasai semua permasalahan mesin diesel dan generator listriknya.

Kebetulan lagi, mekanik mesin diesel keluar, ia pun diminta menggantikan menjadi mekanik mesin diesel. Tanpa diminta, gajinya naik terus secara otomatis mengikuti kenaikan pangkatnya. Setelah beberapa lama, akhirnya Hariyono mampu menguasai seluruh permasalahan bagian bengkel. Kebetulan, lagi-lagi kebetulan yang diharpkan, kepala bagian mesin keluar maka dia menjadi kepala bagian mesin dan instalasi genset dari 25 KVA sampai dengan 1000 KVA berikut perlengkapannya.

Kebetulan lagi, tetapi kali ini kebetulan yang kurang diharpkan, yaitu perusahaan itu bangkrut. Tetapi, apakah Hariyono menjadi ikut bangkrut? Dia malahan diterima bekerja part time di tiga perusahaan berbeda, sebelum akhirnya direkrut oleh salah satu perusahaan makanan yang sekarang sudah terkenal. Pabrik makanan itu baru mempunyai satu buah pabrik dan merencanakan untuk mendirikan pabrik baru. Perusahaan mendatangkan ahli dari Jepang untuk merancang pabrik dan Hariyono bertugas mendampingi. Ahli Jepang tersebut bertugas pada rancangan non listrik, sedangkan Hariyono pada sistem listrik. Pada saat mengerjakan sistem listrik pabrik, ia mengikuti ke mana pun orang Jepang tersebut bekerja dan mengamati dengan seksama apa yang dikerjakan dan mencatat dengan sedetail-detailnya sampai ia mengeri seluruhnya.

Pada saat pendirian pabrik ketiga, pemuda ini menyatakan mampu menangani seluruh sendi pembangunan pabrik dan menjadi penanggung jawab pembangunan pabrik baru. Gajinya terus merambat taik tanpa diminta. Perusahaan kemudian memindahkan Hariyono untuk memimpin divisi business development, yang bertugas membuat rancang bangun peralatan mesin-mesin. Setelah beberapa lama bekerja ia mulai memikirkan,”Mengapa hanya membuat sparepart, apakah tidak mungkin untuk membuat mesin sekalian?” Pikiran ini pernah dilontarkan kepada para peserta training management-kebetulan salah satu direksi perusahaan hadir. Topik yang dibahas ketika itu adalah mengenai asssets return, yaitu bagaimana modal perusahaan dapat cepat kembali dengan modal investasi sekecil mungkin, dan hasil output produksi yang maksimal.

Karena merasa dukungan pendidikannya masih kuranguntuk membuat rancangan mesin, ia berinisiatif mengambil kuliah selepas jam kerja pada sebuah Akademi Teknik di Jakarta. Salah satu materi kuliah yang sangat menarik baginya adalah mata kuliah Prof. Rooseno (almarhum), yang sering bertanya ”Mengapa kereta api yang berat itu bisa meluncur di atas jembatan hanya melalui dua rel besi dengan aman? Pertanyaan inilah yang membuat Haryono selalu berangan-angan dan berandai-andai mencari jawabannya.

Sayangnya, Hariyono tidak mampu membeli buku baru. Lalu bagaimana caranya belajar? Caranya dengan membeli buku bekas. Atau dengan cara meminjam buku untuk dibaca dan disalin, lalu buku dikembalikan dalam keadaan baik seperti semula dan Hariyono membayar 10% dari harga buku tersebut.

Selama kuliah, selain belajar keras, ia mulai mencicil membuat gambar atau desain mesin pengolah makanan. Selesai kuliah, selesai pulalah gambar desain mesin tersebut. Ia menghadap direksi dan mengatakan,” Pak, daripada mengimpor mesin seharga 3 miliar rupiah, kita buat mesin sendiri saja, karena biayanya hanya 1 miliar rupiah.” Direksi terkejut dan menyangkanya main-main. Tetapi, Hariyono mencoba meyakinkan direksi sembari menunjukkan gambar desain mesin ciptaannya. Direksi lebih terbelalak lagi dan berkata,”Apakah kamu yakin dan sanggup bertanggungjawab penuh atas apa yang kamu katakan?” Hariyono menjawab,”Saya sanggup Pak!”

Akhirnya direksi memrintahkan agar mesin mulai dibuat, dan berhasil. Perusahaan berkembang terus sampai akhirnya mampu membuat 13 pabrik, bukan hanya dalam negeri, tetapi sampai membuka cabang di luar negeri. Bukan hanya itu, perusahaan juga akhirnya mampu melakukan ekspor mesin ke mancanegara. Bagaimana nasi anak mudah bernama Hariyono? Kalau dulu pada awal bekrja gajinya hanya Rp 1.500/minggu, tidur di ruang belakang bengkel, kalau pergi ke mana-mana menumpang truk agar dapat menghemat, kini ia memiliki jabatan tinggi di perusahaan dengan gaji beberapa juta per bulan, rumah cukup mapan, mobil lebih dari satu, dan sering ke luar negeri dalam rangka pengembangan engineering know how. Lebih spesifik lagi, sambil bekerja, sekarang Hariyono menjadi supervisor di beberapa perusahaan, dengan salah satu bidang yang ditekuninya tentang bagaimana berinvestasi sekecil mungkin tetapi mempunyai output produksi yang cukup besar, lewat pembuatan mesin produksi sendiri yang memanfaatkan teknologi sederhana.

Dua Orang Tukang Bangunan

Dua Orang Tukang Bangunan

Tersebutlah dua orang tukang yang mendapat tugas dari sang juragan untuk masing-masing membangun sebuah rumah. Juragan itu hendak pergi lama ke negeri seberang untuk menunaikan panggilan suci agamanya. Ia berharap sepulang dri ziarah panjang itu kedua rumah tersebut sudah selesai dan siap digunakan untuk tujuan yang mulia.

Tukang bangunan pertama membangun sebuah rumah sederhana, berukuran kecil saja, dan berkualitas ala kadarnya. Meskipun ia sebenarnya seorang tukang yang ahli dan sudah mengabdi pada Sang Juragan sekitar 30 tahun, namun pada tahun-tahun belakangan ini ia semakin tidak puas saja dengan banyak hal sehingga ia ogah-ogahan berkerja, sering merasa jenuh, suka bersungut-sungut, dan sudah lama berniat pensiun saja.

Tukang bangunan kedua membangun sebuah rumah megah, berukuran besar, berkualitas tinggi dengan sentuhan seni yang bercitarasa. Seperti rekannya, ia pun seorang tukang yang ahli dan sudah mengabdi 30 tahun juga. Meskipun sejumlah hal tak bisa memuaskan hatinya, namun ia memilih untuk bersyukur atas semua hal yang sudah diterima serta dialaminya dari dan dalam pekerjaannya. Ia sadar bahwa jatidirinya sebagai tukang terwujud baik di bawah pengayoman sang juragan. Martabatnya sebagai tukang selalu mencegahnya bekerja asal-asalan, dan karena tahu bahwa inilah mungkin karya terakhirnya maka ia pun berketetapan hati untuk membangun rumah terbaik yang pernah dibuatnya sepanjang karirnya. Seperti gajah yang mati meninggalkan gading, ia pun ingin pensiun dengan meninggalkan karya terbaik.

Dua tahun lewat, juragan itu pun pulang. Ia memanggil kedua tukangnya, menerima kunci rumahnya dan mewawancarai mereka tentang proses pembangunan rumah tersebut. Di akhir pertemuan, juragan berdiri, seraya mengucapkan terimakasih atas pengabdian dan karya mereka selama ini ia pun menyalami kedua tukang tersebut dan berkata, ”Terimalah kunci rumah ini kembali sebab hanya inilah pesangon yang dapat kuberikan. Semoga kalian berbahagia tinggal di sana”.

Moral cerita ini adalah: ”Sesungguhnya tak seorang pun bekerja bagi sang juragan. Setiap orang sebenarnya hanya bekerja untuk dirinya sendiri. Maka, marilah bekerja dengan etos yang terbaik sebab pada akhirnya kita jua yang menerima hasilnya”.