Kamis, 23 Oktober 2008

Bekerja Lebih dari yang Diminta Perusahaan

Bekerja Lebih dari yang diminta Perusahaan

Melihat pernyataan ini, pasti akan timbul keraguan atau tanda tanya. Rasanya, untuk mengerjakan tugas sehari-hari yang ada dalam job descriptionnya saja sudah sulit, apalagi dengan mengerjakan tugas lain yang ada. Apakah tidak menjadi beban tambahan atau malah menyusahkan?

Pada suatu saat, tahun 1979 ada seorang pemuda dari Yogyakarta bernama Hariyono, datang ke Jakarta. Ia seorang lulusan STM jurusan mesin, yang kemudian bekerja di sebuah perusahaan reparasi mesin diesel, sebagai penjaga gudang yang bertugas menjaga gudang dan seluruh peralatannya dengan gaji Rp 1.500/minggu. Sebagai perbandingan, biaya untuk hidup pada saat itu kurang lebih adalah Rp 4.000/minggu. Tidur di bedeng dan kalau bepergian dengan cara nomplok truk, supaya tidak perlu membayar.

Dalam pekerjaannya sebagai penjaga gudang, ia melihat sparepart mesin banyak tergeletak di mana-mana, tidak tertata rapi. Lalu ia berpikir, bagaimana kalu dibuat kotak-kotak dari kayu untuk menyimpan perkakas atau sparepart yang berserakan tadi. Dari mana kayunya, ia tidak minta dibelikan kayu oleh pimpinan, tetapi cari kayu bekas. Paku, juga mencari paku-paku bekas. Martilnya, pinjam dari sana-sini, atau kalau tidak ada ia memakai batu sebagai martil alami. Gergaji pun juga demikian, pinjam dari sana-sini. Akhirnya selama beberapa bulan, selesailah puluhan kotak untuk penyimpanan dan perkakas yang tercecer menjadi rapi tersusun menurut jenisnya.

Suatu saat, pimpinan melihat, dan bertanya,” Siapa yang membuat kotak-kotak sparepart ini?” Hariyono menjawab,”Saya, Pak!” Pimpinan tersebut berkata lagi,”Wah bagus kerjamu. Sekolahmu apa sih?” Jawab Hariyono,”STM mesin Pak!” Pimpinan berkata lagi,”Baiklah kalau begitu, mulai besok kamu naik menjadi pembantu mekanik.”Sebagai pembantu mekanik, ia bertugas membersihkan minyak dan kotoran dari sparepart. Tugas membersihkan kotoran dari sparepart ia lakukan dengan cepat sehingga masih ada waktu luang dalam kerjanya.

Waktu luang itu diisinya dengan memperhatikan electrician pada bagian pompa air. Suatu saat, mekanik pompa air itu menegurnya,” Lu daripada liatin aja, mendingan bantuin gue,” Hariyono tampak girang dan berkata,”Wah, memang itu yang saya tunggu, Pak!” Akhirnya, ia bekerja juga sebagai pembantu bagian listrik dan generator. Karena semangat ingin tahunya tinggi, kerja keras dan modal pendidikannya cukup maka dalam waktu singkat, Hariyono mampu memperbaiki keseluruhan peralatan listrik di generator maupun panel kontrolnya.

Beberapa saat kemudian, secara kebetulan mekanik pompa air tersebut keluar dan Hariyono diminta menggantikan menjadi electrician. Dalam waktu luangnya bekerja sebagai electrician, ia memperhatikan juga bagian mesin diesel yang lain. Sekali lagi, karena kemauan keras dan kemampuannya cukup maka ia mampu menguasai semua permasalahan mesin diesel dan generator listriknya.

Kebetulan lagi, mekanik mesin diesel keluar, ia pun diminta menggantikan menjadi mekanik mesin diesel. Tanpa diminta, gajinya naik terus secara otomatis mengikuti kenaikan pangkatnya. Setelah beberapa lama, akhirnya Hariyono mampu menguasai seluruh permasalahan bagian bengkel. Kebetulan, lagi-lagi kebetulan yang diharpkan, kepala bagian mesin keluar maka dia menjadi kepala bagian mesin dan instalasi genset dari 25 KVA sampai dengan 1000 KVA berikut perlengkapannya.

Kebetulan lagi, tetapi kali ini kebetulan yang kurang diharpkan, yaitu perusahaan itu bangkrut. Tetapi, apakah Hariyono menjadi ikut bangkrut? Dia malahan diterima bekerja part time di tiga perusahaan berbeda, sebelum akhirnya direkrut oleh salah satu perusahaan makanan yang sekarang sudah terkenal. Pabrik makanan itu baru mempunyai satu buah pabrik dan merencanakan untuk mendirikan pabrik baru. Perusahaan mendatangkan ahli dari Jepang untuk merancang pabrik dan Hariyono bertugas mendampingi. Ahli Jepang tersebut bertugas pada rancangan non listrik, sedangkan Hariyono pada sistem listrik. Pada saat mengerjakan sistem listrik pabrik, ia mengikuti ke mana pun orang Jepang tersebut bekerja dan mengamati dengan seksama apa yang dikerjakan dan mencatat dengan sedetail-detailnya sampai ia mengeri seluruhnya.

Pada saat pendirian pabrik ketiga, pemuda ini menyatakan mampu menangani seluruh sendi pembangunan pabrik dan menjadi penanggung jawab pembangunan pabrik baru. Gajinya terus merambat taik tanpa diminta. Perusahaan kemudian memindahkan Hariyono untuk memimpin divisi business development, yang bertugas membuat rancang bangun peralatan mesin-mesin. Setelah beberapa lama bekerja ia mulai memikirkan,”Mengapa hanya membuat sparepart, apakah tidak mungkin untuk membuat mesin sekalian?” Pikiran ini pernah dilontarkan kepada para peserta training management-kebetulan salah satu direksi perusahaan hadir. Topik yang dibahas ketika itu adalah mengenai asssets return, yaitu bagaimana modal perusahaan dapat cepat kembali dengan modal investasi sekecil mungkin, dan hasil output produksi yang maksimal.

Karena merasa dukungan pendidikannya masih kuranguntuk membuat rancangan mesin, ia berinisiatif mengambil kuliah selepas jam kerja pada sebuah Akademi Teknik di Jakarta. Salah satu materi kuliah yang sangat menarik baginya adalah mata kuliah Prof. Rooseno (almarhum), yang sering bertanya ”Mengapa kereta api yang berat itu bisa meluncur di atas jembatan hanya melalui dua rel besi dengan aman? Pertanyaan inilah yang membuat Haryono selalu berangan-angan dan berandai-andai mencari jawabannya.

Sayangnya, Hariyono tidak mampu membeli buku baru. Lalu bagaimana caranya belajar? Caranya dengan membeli buku bekas. Atau dengan cara meminjam buku untuk dibaca dan disalin, lalu buku dikembalikan dalam keadaan baik seperti semula dan Hariyono membayar 10% dari harga buku tersebut.

Selama kuliah, selain belajar keras, ia mulai mencicil membuat gambar atau desain mesin pengolah makanan. Selesai kuliah, selesai pulalah gambar desain mesin tersebut. Ia menghadap direksi dan mengatakan,” Pak, daripada mengimpor mesin seharga 3 miliar rupiah, kita buat mesin sendiri saja, karena biayanya hanya 1 miliar rupiah.” Direksi terkejut dan menyangkanya main-main. Tetapi, Hariyono mencoba meyakinkan direksi sembari menunjukkan gambar desain mesin ciptaannya. Direksi lebih terbelalak lagi dan berkata,”Apakah kamu yakin dan sanggup bertanggungjawab penuh atas apa yang kamu katakan?” Hariyono menjawab,”Saya sanggup Pak!”

Akhirnya direksi memrintahkan agar mesin mulai dibuat, dan berhasil. Perusahaan berkembang terus sampai akhirnya mampu membuat 13 pabrik, bukan hanya dalam negeri, tetapi sampai membuka cabang di luar negeri. Bukan hanya itu, perusahaan juga akhirnya mampu melakukan ekspor mesin ke mancanegara. Bagaimana nasi anak mudah bernama Hariyono? Kalau dulu pada awal bekrja gajinya hanya Rp 1.500/minggu, tidur di ruang belakang bengkel, kalau pergi ke mana-mana menumpang truk agar dapat menghemat, kini ia memiliki jabatan tinggi di perusahaan dengan gaji beberapa juta per bulan, rumah cukup mapan, mobil lebih dari satu, dan sering ke luar negeri dalam rangka pengembangan engineering know how. Lebih spesifik lagi, sambil bekerja, sekarang Hariyono menjadi supervisor di beberapa perusahaan, dengan salah satu bidang yang ditekuninya tentang bagaimana berinvestasi sekecil mungkin tetapi mempunyai output produksi yang cukup besar, lewat pembuatan mesin produksi sendiri yang memanfaatkan teknologi sederhana.

Tidak ada komentar: